Kamis, 17 April 2014

KISAH SEEKOR KERBAU



waktu kecil pekerjaan saya adalah mengembalakan kerbau. Biasanya di bulan Juni tiap tahun adalah libur sekolah yang panjang, sekitar sebulan lebih. Masa-masa itu saya mengembalakan kerbau. Kerbau yang kami miliki paling tiga ekor, tetapi tetangga kami memiliki kerbau diatas 50 ekor. Sewaktu menggembala, kerbau ini menjadi satu kumpulan saja. Tiap ekor kerbau memiliki nama tersendiri dan mereka mengerti jika namanya dipanggil. Unik memang, karena tiap kerbau ternyata memiliki kelakuan yang berbeda-beda satu sama lain, selain itu bentuk tubuh, warna rambut, bentuk tanduk, ekor, dll juga berbeda beda.

Dari antara kerbau tetangga ini adalah seekor betina paling senior, karena umurnya sudah tua dan dia yang paling lama di kumpulan kerbau tersebut. Si ranga, itulah namanya, seekor kerbau betina yang tanduknya sangat panjang dan melebar kesamping membentuk u yang jauh, itulah sebabnya dia dinamakan si ranga. Si ranga sudah berumur delapan tahun, selama itu dia sudah lima kali beranak. Anak-anaknya adalah si Pelang, si Jorbut, si Bontar, si Lima Pijoran dan yang terakhir adalah si Tikko. Pemberian nama kerbau ini ada yang berdasarkan perilakunya, ada yang berdasar warnanya , ada yang berdasarkan bentuk tanduknya atau susunan rambutnya,dll.

Si tikko sudah bermur dua tahun, namanya juga diberikan berdasarkan bentuk tanduknya yang tajam dan lurus di bagian atas, itulah sebabnya dia dinamakan si Tikko. Kerbau jantan ini sedikit sombong karena badannya besar dan berisi. Selain itu si Tikko merasa superior dan hebat, karena memang setiap hari dia diberikan rumput yang bagus dan berkualitas.

Tiap sore si Tikko dimandikan pemiliknya dengan air hangat dan digosok gosok dengan sabuk kelapa. Kemudian badannya diberikan sedikit minyak tanah untuk mengusir lalat-lalat yang selalu berkerumun dibadannya. Si Tikko sangat senang, setelah Kenyang makan rumput yang bagus kemudian dia diberi makanan yang terbuat dari campuran ubi, garam, ikan, campuran makanan lezat bagi seekor kerbau (marsobur). Dimalam hari si Tikko masuk ke kandang yang hangat dan diasapi dengan api, itu juga berfungsi sebagai pengusir nyamuk dimalam hari. Si Tikko merasa dia
 adalah kerbau yang hebat dan dilayani dengan baik oleh tuannya, sehingga si Tikko merasa seperti bos dan memiliki hidup yang menyenangkan, Kerbau yang merasa paling hebat diantara kaumnya.

Si Tikko yang merasa hidupnya sempurna, berkuasa, hebat, kaya dan dilayani terus oleh tuannya. Si Tikko merasa dia-lah bos yang sebenarnya sedangkan tuannya itu adalah tak lebih dari pembantunya yang menyediakan semua yang diperlukannya. Tetapi malangnya si Tikko tidak pernah tahu bahwa beberapa hari kemudian dia akan dijual untuk disembelih. Betapa malangnya seandainya dia adalah seorang manusia atau sebuah bangsa. Teman-teman mantan parmahan (gembala kerbau) selamat mengenang masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar